idea,- Pukul dua siang, langit Ternate terentang cerah. Matahari menyengat, tapi angin dari arah laut sesekali menyejukkan. Satu per satu orang berdatangan ke Kadaton Ternate, menuju pendopo yang teduh.

Hari itu, empat buku tentang kesultanan dan peradaban Maluku Utara diluncurkan di Pandopo Kesultanan Ternate, Jumat (30/1).

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos didampingi Wakil Gubernur Sarbin Sehe, resmi meluncurkan buku Empat Kesultanan dan Peradaban di Maluku Utara.

Buku-buku ini merupakan hasil riset kolaboratif Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara dengan ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Maluku Utara yang dimulai sejak 2024.

Dalam sambutannya, Gubernur Sherly menekankan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa silam. “Buku ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita merawat jati diri Maluku Utara,” ujar Sherly.

Ia mengapresiasi kerja riset yang melibatkan banyak penulis (22 orang) dan penelusuran arsip lintas negara: Belanda, Portugal, dan Spanyol.

Menurut Sherly, pembangunan daerah tak melulu soal jalan dan gedung. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pembangunan juga berarti menjaga pengetahuan dan identitas,” katanya.

Sherly berharap buku-buku tersebut menjadi sumber pembelajaran sekaligus ruang dialog, terutama bagi generasi muda. Nilai-nilai yang dijaga empat kesultanan—Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan—perlu dirawat sebagai energi kultural untuk membawa Maluku Utara ke panggung nasional.

Nada serupa disampaikan Ketua ICMI Orwil Maluku Utara, Kasman Hi Ahmad. Ia menyebut Maluku Utara memiliki sejarah panjang dan peradaban besar yang kerap luput dari perhatian. “Kekayaan itu harus dijaga dan diwariskan,” ujarnya.

Kasman mengapresiasi dukungan pemerintah daerah atas penerbitan buku ini. Ia berharap hasil riset tersebut menjadi inspirasi bagi generasi muda agar memahami akar sejarahnya dan tumbuh sebagai generasi unggul.

Panitia peluncuran mencatat sekitar 200 undangan hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari unsur pemerintah provinsi, penulis dan penyusun buku, akademisi, sejarawan, perwakilan empat kesultanan Moloku Kie Raha, serta pengurus ICMI pusat dan daerah.

Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman publik tentang peran empat kesultanan dalam membentuk peradaban Maluku Utara, sekaligus relevansinya dalam kehidupan sosial kontemporer. Panitia berharap buku-buku ini memperkuat kesadaran sejarah dan kebudayaan di wilayah tersebut.

Peluncuran ditandai dengan penandatanganan replika sampul buku oleh Gubernur Sherly bersama Ketua ICMI Orwil Maluku Utara dan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara, Muliadi Tutupoho. Buku kemudian diserahkan kepada perwakilan empat kesultanan.

Empat buku yang diluncurkan masing-masing berjudul Warisan Tamaddun Kesultanan Ternate; Manusia Tidore: Sejarah Peradaban dan Kesultanan; Kesultanan Bacan: Dinamika Kekuasaan dan Kosmopolitanisme Ekonomi Global; serta Kesultanan Jailolo dan Keragaman Sukubangsa di Halmahera Barat.

Seluruhnya ditulis berdasarkan riset kualitatif deskriptif dan penelusuran arsip sejarah di Belanda, Portugal, dan Spanyol.
Acara peluncuran dan diskusi berlangsung hingga menjelang senja, selepas Asar. Pendopo perlahan lengang, sementara kisah-kisah lama tentang peradaban Maluku Utara kembali menemukan pembacanya.*