Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah
(Penulis, Dosen Filsafat, Pegiat Literasi)

Sering kali kita mengira bahwa kedamaian adalah sebuah pencapaian batin yang luhur. Padahal bisa jadi ia hanyalah sebuah siasat licik agar kita tidak perlu mendengar suara retakan di luar sana.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk merapikan sudut-sudut hidup yang bisa kita kendalikan. Entah itu dengan memilih aroma kopi yang tepat di pagi hari atau menyusun kata-kata yang paling sopan dalam percakapan publik seolah-olah jika keteraturan itu berhasil kita jaga maka kekacauan dunia akan berhenti dengan sendirinya.

Saya melihat bahwa ada semacam egoisme yang halus saat kita merasa sangat tenang di dalam “ruang kedap” yang kita bangun. Sementara itu, batin kita sebenarnya tahu bahwa kenyamanan itu hanyalah sebuah penundaan terhadap kegelisahan yang suatu saat pasti akan menagih janji.

Kita lebih senang menjadi pengamat yang aman di balik kaca jendela yang tebal daripada menjadi pelaku yang basah kuyup di tengah badai karena kita sering salah mengira bahwa nurani yang jernih berarti batin yang tidak pernah merasa terganggu.

Padahal kejernihan yang sesungguhnya justru sering lahir dari kesanggupan untuk membiarkan diri kita merasa tidak nyaman dan bersedia membuka pintu bagi ketidakpastian yang paling buruk sekalipun.

Bagi saya, menjadi seorang pemikir yang jujur berarti mesti berhenti menggunakan filsafat sebagai obat penenang atau tameng untuk menutup mata terhadap penderitaan sesama yang mungkin tidak terlihat dari jendela kita yang bersih. Kita butuh ketegasan untuk menyadari bahwa kedamaian yang kita banggakan itu hanyalah sebuah persembunyian sementara jika ia tidak mampu membuat kita menjadi lebih peka terhadap getaran kesedihan di sekitar kita.

Karena sesungguhnya.. Kematangan batin kita tidak diuji saat segalanya sedang rapi dan terkendali melainkan diuji pada saat seluruh siasat kenyamanan kita itu runtuh dan kita tetap memilih untuk tidak kehilangan kemanusiaan kita di hadapan badai yang sesungguhnya.**