Idea,- Anggota DPRD Maluku Utara, Aksandri Kitong, memberikan penjelasan terkait percakapannya di salah satu grup WhatsApp yang belakangan dituding provokatif dan berujung pada isu SARA.

Kepada awak media, Aksandri menegaskan bahwa pesan WhatsApp yang ia tulis bukanlah ajakan kekerasan atau konflik. Ia justru menduga ada pihak yang sengaja melakukan framing untuk memperkeruh suasana.

“Saya merasa heran ada yang menolak upaya membangun keharmonisan dan kedamaian. Sampai-sampai pesan saya di grup WhatsApp disebarkan ke publik, yang akhirnya menimbulkan salah tafsir,” ujar Aksandri, Senin (30/3).

Sebelumnya, Aksandri Kitong menulis pesan berisi kalimat “baku bunuh” di grup WhatsApp DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Halmahera Utara. Pesan tersebut kemudian beredar luas dan menuai kecaman publik.

Menanggapi hal itu, Aksandri menjelaskan kalau pesan yang dimaksud tidak ditujukan kepada warga Muslim, melainkan kepada empat rekannya sesama non-Muslim yang menolak agenda pertemuan antara aliansi pemuda Kristen dan front pemuda Muslim di Tobelo, Halmahera Utara.

“Di internal kami ada yang menyerang saya. Kami dari aliansi pemuda Kristen menginisiasi pertemuan dengan teman-teman front pemuda Muslim Tobelo, dengan tujuan meredam konflik dan menjaga perdamaian. Namun setelah pertemuan itu, saya justru diserang secara internal, sehingga saya emosi dan mengatakan ‘baku bunuh’. Pesan itu saya tujukan kepada empat teman saya yang mengkritisi pertemuan tersebut,” jelasnya.

Politisi Partai Demokrat itu juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi akibat pesannya.

“Saya, Aksandri Kitong, dari lubuk hati terdalam memohon maaf atas pesan yang saya tulis di grup GAMKI. Ini tidak ada kaitannya dengan upaya memprovokasi masyarakat,” ucapnya.**