idea,- Manuver Djasman Abubakar, dalam seleksi terbuka jabatan Direktur Perumda Air Minum (PDAM) Ake Gaale Kota Ternate rupanya menuai  kritikan publik.

Djasman dinyatakan lolos seleksi administrasi berdasarkan pengumuman Panitia Seleksi Terbuka Jabatan Direktur dan Dewan Pengawas Perumda Air Minum Ake Gaale Kota Ternate Nomor: 02/PANSEL-PERUMDA/2026 tentang hasil penjaringan dan kelengkapan berkas administrasi.

Meski ia berhak menuju tahap berikutnya, bukan berarti publik lupa akan rekam jejak adik  Wakil Walikota Ternate, Nasri Abubakar soal ketidakberesan mengelola organisasi.

Kegagalan Djasman memimpin KONI Maluku Utara dan berujung pada kudeta internal pada 2024 kemarin, telah memberikan catatan khusus kepada panitia seleksi bahwa yang bersangkutan tak pantas menduduki jabat utama yang mengurusi kebutuhan utama masyarakat Kota Ternate.

Ketua Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Maluku Utara( PW SEMMI Malut), Sarjan H. Rivai dengan tegas menilai, sosok Djasman tak layak menduduki Jabatan Direktur dan Dewan Pengawas Perumda Air Minum Ake Gaale Kota Ternate. Gagalnya Djasman memimpin KONI telah membuktikan ketidakmampuannya mengurus organisasi, baik manajemennya maupun  caranya dia membangun komunikasi yang baik.

”Panitia Seleksi harusnya berpikir dua kali sebelum meloloskan Djasman. Saya kira masyarakat Malut dan khususnya Kota Ternate tahu betul bagaimana sepak terjang Djasman ketika menahkodai organisasi olahraga (KONI) level provinsi. Dia dikudeta oleh orangnya sendiri, ini artinya yang bersangkutan tidak paham urusan organisasi. Bagaimana nantinya kalau sampai mengelola PDAM Kota Ternate. Saya yakin dan percaya akan bernasib sama seperti KONI.”ujarnya kepada ideapublik, Senin (13/1).

Tak jauh berbeda pernyataan yang disampaikan Praktisi hukum Agus R. Tampilang. Ia meminta Djasman agar mengurungkan ambisinya menjabat Direktur PDAM Ake Gaale Kota Ternate.

Menurut Agus, prestasi dan capaian negatif sewaktu menjabat Ketua KONI Maluku Utara dikhawatirkan terulang dan berimbas pada tata kelola PDAM Ake Gaale Kota Ternate.

“Ada prestasi apa di KONI?. Ini bukan soal suka tidak suka, tapi soal manajemen, kepemimpinan dan tata kelola. Pimpinan Cabor KONI saja dikudeta karena tidak transparan soal anggaran. Apa bila yang bersangkutan kalau sampai terpilih, tinggal menunggu bom waktu bagi PDAM Ake Gaale Kota Ternate. Apapun alasannya Djasman tidak layak,”katanya.

Di satu sisi dengan karakter Djasman yang tidak mau diberi saran orang lain, kata Agus, tentunya berimbas pada tata kelola PDAM Ake Gaale nantinya.

“Belum lagi orangnya tidak mau dengan saran orang lain. Bagaimana tata kelola PDAM Ake Gaale Kota Ternate mau bagus kalau direkturnya semacam itu. Waktu jabat Sekretaris NasDem juga demikian, jangan bikin rusak PDAM Ake Gaale”ucapnya.

Agus menyarankan, selain Djasman, panitia seleksi juga harus mempertimbangkan Samin Marsaoly.

Bagi Agus, keduanya jangan sampai diberi ruang masuk dalam jajaran PDAM Ake Gaale.

”Alasan saya realistis. Pertama,  track record Djasman ini sudah buruk. Sementara kedua, Pak Samin ini kan Kepala BKPSDM. Kalau keinginan mau jadi Direktur PDAM Ake Gaale ya segera undur diri dari jabatan yang diemban sekarang. Memangnya  di Ternate ini sudah tidak orang lain?.”erangnya.

Agus menekankan, seleksi Direktur dan Dewan Pengawas PDAM Ake Gaale dilakukan terbuka dan benar-benar sesuai kompetensi tanpa intervensi atau campur tangan siapapun, terutama Wali Kota M. Tauhid Soleman dan Wakil Wali Kota Nasri Abubakar.

“Pak wali dan wakil wali kota fokus saja urus pemerintahan, tidak usah urus siapa yang nanti terpilih, itu urusan panitia. Kalau sampai Djasman dan Samin terpilih, sudah pasti mengarah pada kepentingan politik ke depan.”pungkasnya.**