idea,_Universitas Khairun (Unkhair) menjadi tuan rumah konsolidasi gerakan mahasiswa nasional melalui penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XIX Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan.
Agenda nasional itu dihadiri delegasi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, yang berlangsung di Aula Banau, Kampus I Unkhair, Ternate, Senin (2/11/2026).
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni Unkhair, H. Jamal Hi. Arsyad, S.H., M.H, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BEM SI Kerakyatan menjadikan Unkhair sebagai tuan rumah agenda nasional.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kekuatan intelektual dan moral yang turut menentukan arah perjalanan bangsa. Karena itu, idealisme, independensi, serta keberanian menyampaikan aspirasi harus menjadi landasan gerakan mahasiswa.
Ia mengingatkan agar kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial disampaikan secara objektif, terukur, dan berdasarkan fakta.
“Saya tidak pernah membatasi cara berpikir mahasiswa ataupun membungkam demokrasi. Namun, setiap kritik yang disampaikan harus didukung data sehingga memiliki dasar dan argumentasi yang kuat,” tegasnya.
Jamal mengajak delegasi BEM SI Kerakyatan, melihat langsung berbagai persoalan dan tantangan pembangunan di Maluku Utara. Ia berharap, forum nasional ini dapat melahirkan gagasan serta rekomendasi konstruktif bagi pemerintah sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Maluku Utara, Sri Haryanti Hatari, M.Si, saat membacakan sambutan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menyebut, terdapat tiga karakter yang harus melekat pada mahasiswa, yakni kritis dalam berpikir, independen dalam bersikap, dan konstruktif dalam bertindak.
Menurutnya, pemerintah terbuka terhadap kritik yang jujur dan bertanggung jawab. Namun, aspirasi mahasiswa perlu disertai argumentasi berbasis data serta tawaran solusi agar dapat menjadi masukan dalam perumusan kebijakan.
Sri Haryanti juga menyoroti tantangan pembangunan Maluku Utara, sebagai daerah kepulauan yang memiliki potensi besar di sektor pertambangan, perikanan, pertanian, perkebunan, dan pariwisata.
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan penting. Pembangunan, kata dia, harus diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, perluasan lapangan kerja, pemerataan infrastruktur, serta perlindungan lingkungan.
Ia berharap, peserta Rakernas dapat menjadikan Maluku Utara sebagai ruang pembelajaran untuk memahami persoalan pembangunan daerah kepulauan, keadilan sosial, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Alumni Unkhair, Dr. Nirwan MT Ali, S.H., M.M, mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan gerakan mahasiswa di tengah perbedaan pandangan dan dinamika organisasi.
Menurutnya, persoalan internal tidak boleh mengalihkan perhatian mahasiswa dari tanggung jawab memperjuangkan hak-hak masyarakat. Soliditas menjadi modal utama agar gerakan mahasiswa memiliki kekuatan dalam menyuarakan aspirasi rakyat.
“Rakyat tidak sedang menunggu kita sibuk soal struktur organisasi. Mereka menunggu sikap tegas mahasiswa terhadap krisis yang nyata. Karena itu, mahasiswa harus solid agar perjuangan untuk kepentingan rakyat tidak kehilangan arah,” ujarnya.
Nirwan berharap, Rakernas XIX menjadi momentum rekonsiliasi sekaligus ruang mencari kesepahaman untuk memperkuat persatuan BEM SI Kerakyatan.
Plt. Presiden BEM Unkhair, Mustadin Togubu, mengatakan penunjukan Ternate sebagai lokasi penyelenggaraan Rakernas merupakan langkah memperluas konsolidasi gerakan mahasiswa hingga kawasan Indonesia Timur.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh delegasi yang telah datang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara hingga Papua, untuk menyukseskan agenda tersebut.
Sementara, Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan, Mavi Adiek Garlosa, menjelaskan aliansi yang dipimpinnya memiliki jaringan 15 wilayah, 27 koordinator isu, serta melibatkan lebih dari 400 perguruan tinggi di Indonesia.
BEM SI Kerakyatan, kata Mavi harus konsisten menempatkan diri di barisan rakyat, terutama dalam merespons persoalan yang belum mendapatkan perhatian serius, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi ketimpangan pembangunan, kerusakan lingkungan, bencana alam, hingga persoalan ekonomi masyarakat. Menurutnya, berbagai tantangan itu membutuhkan respons dan keberpihakan nyata dari gerakan mahasiswa.
Melalui Rakernas XIX, Mavi berharap konsolidasi antar kampus menghasilkan kesepakatan dan rekomendasi konkret yang dapat dibawa ke lembaga legislatif, termasuk DPR RI, serta menjadi bahan masukan bagi pemerintah.
“Setiap napas dan gerak BEM SI Kerakyatan harus senantiasa berada di barisan rakyat. Ketika masyarakat membutuhkan suara, mahasiswa harus hadir untuk menyuarakannya,” tegasnya. (*)




Tinggalkan Balasan