idea,_  Pengelolaan limbah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah naungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Abdi Bangun Negeri, Kelurahan Jati, Kota Ternate diduga tidak memiliki tempat penampungan sampah khusus sejak pertama kali beroperasi. Akibatnya, disoalkan warga sekitar.

SPPG yang disinyalir ada kaitannya dengan Plt Kepala BPJN Maluku Utara, Abdul Hamid Payapo ini memiliki skala operasional dan intensitas produksi harian yang cukup besar.

Berdasarkan pantauan di lokasi, puluhan kantong plastik hitam berisi limbah dapur dibiarkan menumpuk begitu saja di tepi jalan, tepat depan gedung operasional MBG.

Warga setempat harus menghirup aroma busuk yang menyengat dari tumpukan sampah tersebut. Kondisi ini tidak hanya mengganggu, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan dan menyebarkan penyakit.

Menurut Wahyu, salah satu warga Jati, lingkungannya telah memiliki sistem pengangkutan sampah swadaya menggunakan gerobak RT. Meski demikian, penumpukan limbah dapur MBG tetap terjadi saat truk sampah umum terlambat melintas di pemukiman.

Sementara Ido, warga yang rumahnya tak jauh dari  lokasi dapur MBG, menyebut kalau areanya paling terdampak aroma busuk limbah sisa bahan makanan.

Terlebih lagi, kata dia, saat volume limbah meningkat, pengelola biasanya menampung sisa sampah di dalam area gedung lebih dulu sebelum dikeluarkan ke pinggir jalan untuk diangkut.

“Kalau sampah ditumpuk dan dibiarkan begitu saja, sudah pasti aroma busuknya menyebar ke mana-mana. Apalagi rumah kita yang tak jauh dari sini”ucapnya belum lama ini.

Kepala SPPG Yayasan Abdi Bangun Negeri, Juan Ricky, ketika dikonfirmasi terkait keluhan warga atas penumpukan sampah dapur MBG belum menanggapinya secara resmi hingga berita ini ditayangkan.