Oleh: Samsudin Wahab Genvyr

Ada sesuatu yang kehadirannya di tengah masyarakat sudah sangat lama, bahkan selisih umurnya dengan warga yang pertama kali mendiami wilayah itu tidak begitu jauh.

Ia tidak datang dari kota-kota besar, tidak juga dari pabrik-pabrik yang megah, melainkan dari wilayah yang letak geografisnya terbagi di antara pulau-pulau kecil dan dipisahkan masing-masing diantaranya oleh lautan.

Ia datang dari titik-titik hutan yang sunyi. Tempat para petani menumpahkan segala usaha dan keringatnya. Ia adalah produk yang tidak berkemasan di mana di atasnya tertera merk-merk besar seperti Indofood atau Unilever.

Ia adalah sagu bakar. Sagu yang bahan dasarnya bukan dari pohon sagu. Melainkan dari singkong. Proses pengolahannya pada tahap pertama juga berbeda. Tidak seperti sagu dari pohon sagu , sagu bakar dari singkong ini bukan diambil dari saripatinya. Melainkan dari daging singkongnya yang digiling menggunakan mesin.

***

Setiap daerah punya kuliner khasnya tersendiri yang menegaskan tentang identitas daerahnya. Jika Papua terkenal dengan sagunya, Makassar dengan Kapurung dan Bacan dengan sagu tumangnya, maka Kayoa pun begitu. Ia terkenal dengan Sagu Kayoanya. Sagu bakar ini populer di Maluku Utara dengan nama Sagu Kayoa. Salah satu bahan makanan yang namanya identik langsung dengan nama daerah asalnya.

Sagu kayoa bukanlah hidangan yang proses memasaknya tidak butuh waktu lama seperti nasi dan sayur. Ia harus menempuh dua tahap dalam proses pembuatan.

Pertama, forno harus dipanaskan terlebih dahulu di atas api yang berbahan bakar kayu. Kedua, setelah forno itu panas, dengan menunjukkan tampilan berwarna merah seperti bara api barulah tepung singkong itu dimasukkan ke dalam petak-petak forno menggunakan alat yang berfungsi seperti corong namun berbentuk agak memanjang, disesuaikan dengan mulut petak-petak forno.

Setelah menunggu beberapa menit, sagu siap untuk diangkat, didinginkan lalu dimakan.

***

Sagu tidak hadir di supermarket-supermarket besar, tidak pula di kafe-kafe atau restoran-restoran mewah. Keberadaannya di pasarhanya sering dijumpai di pasar-pasar tradisional. Tak jarang, sagu Kayoa bahkan pula dijajakan oleh mama-mama Kayoa di rumah-rumah tetangga atau di sepanjang jalan.

Sagu tidak lahir dari tangan-tangan koki handal di restoran-restoran mewah dengan perkakas dapur yang serba canggih, tidak juga dari rumah makan-rumah makan besar. Ia datang daridapur-dapur kecil yang kadang sebagiannya masih beratapkankatu yang terbuat dari daun sagu.

Sagu Kayoa tidak muncul begitu saja dan tidak hanya bergunasebagai barang konsumsi semata. Ia mengekspresikan identitas, peran dan makna. Baik makna sosial, budaya maupun ekonomi.

Di dapur, perempuan yang kita panggil dengan sebutan mama memiliki peran yang begitu penting dalam pembuatan sagu. Di sana wajah mama harus kebal terhadap uap panas api di tungku. Api yang suhunya mungkin sedikit lebih tinggi karena selain kayu, sabut kelapa yang masih melekat dengan tempurungnya juga ditambahkan sebagai bahan bakar agar forno cepat panas. Selain itu, mata mama juga harus kuat; tak terhitung berapa kali mama meneteskan air mata karena berhadapan langsung dengan asap .

Dengan perkakas sederhana berupa aya-aya, pacitaka, sapu-sapu dan logai mama menyulap tepung singkong menjadi sagu Kayoa yang perannya bukan hanya sebatas makanan yang mengenyangkan perut. Melainkan juga identitas  yang kemudian ikut memperkenalkan kekhasan Kayoa di mata masyarakatMaluku Utara.

Selain itu, sagu Kayoa juga menjadi komoditas yang laku di pasar-pasar tradisional. Ia mendatangkan peluang pendapatan ekonomi yang terhitung cukup penting. Dari situlah kehadiran sagu Kayoa justru menegaskan bahwa perempuan juga bisa produktif dan bisa menghasilkan uang untuk menopang ekonomi rumah tangga.

***

Di dalam dapur yang kadang tak sempat mendapat sorotan kamera, di hadapan tungku yang panas, asap yang membuat agas mama kadang termegap-megap dan perkakas tua sederhana yang menolak tunduk pada zaman, peran mama kadang hanya menjadi cerita-cerita yang membisu di sanubari anak-anak pulau Kayoa.

Cerita tentang mama yang memiliki peran penting sebagai pencetak identitas dan makna itu seolah begitu kerdil untuk ditampilkan di hadapan narasi-narasi besar tentang kebangsaan, ekonomi politik, agama, sains dan wacana besar lainnya.

Saat ini, era di mana makanan cepat saji telah menyebar di mana-mana menjadi tantangan berat bagi pangan lokal seperti sagu  Kayoa untuk tetap menegakkan peran dan pengaruhnya sebagai identitas lokal.

Makanan cepat saji yang datang dari pabrik-pabrik di perkotaan juga tentu tidak hadir begitu saja tanpa membawa nilai eksistensi dan identitas yang dilekatkan padanya. Pabrik tidak hanya menciptakan produk. Ia juga memproduksi makna, citra dan tanda.

Orang desa yang mengkonsumsi makanan kota akan merasa lebih keren. Citranya jauh lebih tinggi ketika memakan pizza atau kue lontar sambil berpose di kafe atau restoran ketimbang memakan sagu Kayoa.

Ketika orang desa memakan makanan kota, saat itu yang iarasakan bukan hanya rasa kenyang dan kepuasan. Tetapi jugarasa percaya diri yang menunjukkan kelas sosialnya di mataorang lain.

Sementara orang yang mengkonsumsi sagu Kayoa, ia hanya mengkonsumsi makna dan identitas lokal. Tidak lebih dari itu.

Ketika sagu Kayoa mulai kehilangan minatnya di mata generasisekarang. Maka yang hilang bukan hanya identitas. Ada makna dan peran perempuan yang juga pelan-pelan ikut tergerus.

Peran dan kerja keras perempuan yang bernama mama akan ikut terkubur pelan-pelan bersama bergantinya waktu. Dan cerita-cerita di dada anak-anak pulau Kayoa tentang mama yang membakar sagu Kayoa akan tetap terus membisu.

Pada akhirnya, muncul suatu kekhawatiran bahwa jangan-jangan kita tidak  sedang merayakan eksistensi dan identitas baru yang datang dari luar. Tetapi, justru kita sedang memasuki kondisidan fase di mana kita mengalami kecemasan eksistensial. Sebab kita hanya ikut-ikutan apa yang didiktekan oleh pasar. Identitas kita akan terus berubah seiring bergantinya produk-produk ciptaan pasar

Catatan Kaki:

1. Sebelum penyebaran mesin sampai di desa-desa, dagingsingkong ini umumnya diparut dengan alat sederhana.
2. Makanan yang berbahan dasar dari pohon sagu. Ia sepertipapeda. Tetapi, jika papeda yang kita kenal terpisah sendiridari kuah dan sayurnya,  Kapurung justru penyatuan antarapapeda, sayur dan ikan dalam satu piring atau mangkuk.
3. Cetakan sagu yang terbuat dari tanah liat
4. Alat ini umumnya terbuat dari bambu. Di desa Guruapin, alatini disebut pacitaka; alat yang berfungsi seperti corong; digunakan agar tepung sagu tidak tumpah di luar forno.
5. Alat penyaring tepung singkong
6. Alat yang gagangnya terbuat dari bambu, ujungnya dilapisikulit jagung; berguna untuk mengolesi forno, semacampelumas agar forno tidak terlalu panas sehingga sagu tidakcepat hangus.
7. Alat penyaring tepung singkong. Bentuknya sama seperti aya-aya hanya saja ukuran lubang penyaringannya sedikit lebih besar