idea _Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Prof. Dr. Abdullah W. Jabid, S.E., M.M., meminta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) terus memperkuat perannya dalam menjaga dan mengembangkan budaya, bahasa, sejarah, serta peradaban Maluku Utara.

Hal itu disampaikan Prof. Abdullah saat menghadiri puncak Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair di pelataran Gedung Dekanat FIB, Kampus II Unkhair, Kelurahan Gambesi, Kota Ternate Selatan, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, usia 27 tahun menjadi momentum bagi FIB untuk merefleksikan perjalanan, mengevaluasi pengabdian, sekaligus meneguhkan arah perjuangan ke depan.

“Budaya bukan hanya sesuatu yang kita warisi, tetapi juga sesuatu yang harus kita kembangkan dan kontribusikan bagi masa depan,” ujar Prof. Abdullah.

Ia juga mengapresiasi ziarah ke makam para pendahulu FIB. Menurutnya, perkembangan fakultas saat ini tidak terlepas dari fondasi yang dibangun para pendahulu melalui pikiran, tenaga, dan pengabdian.

“Menghormati pendahulu berarti menjaga kesinambungan perjuangan,” katanya.

Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin, S.S., M.A, mengatakan peluncuran tiga buku bentuk apresiasi, dan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meninggalkan jejak pengabdian bagi FIB.

Tiga buku itu didedikasikan untuk almh. Dra. Rainnanur A. Latief, M.Hum, alm. Dr. Wildan Mattara, S.S., M.Hum, dan alm. Irfan Ahmad, S.S., M.A.

“Lewat buku-buku ini kami ingin mengenang jejak pemikiran dan keteladanan beliau bertiga. Semoga apa yang menjadi kontribusi mereka dapat kami terus perjuangkan,” ujar Nurain.

Menurutnya, Dies Natalis ke-27 juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan seluruh sivitas akademika FIB.

Ketua Senat FIB Unkhair Dr. Syahyunan Pora, S.Fil., M.Phil, mengatakan FIB bermula pada 1999 dengan nama Fakultas Sastra dan Budaya dengan tiga program studi, yakni Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Ilmu Sejarah.

Sejumlah tokoh, seperti Ketua Yayasan Unkhair alm. Jusuf Abdulrahman, almh. Dra. Rainnanur A. Latief, dan Almh. Irza Arnyta Jafar, ikut meletakkan fondasi awal fakultas. Kontribusi para senior kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan FIB hingga saat ini.

Syahyunan, mengatakan FIB memiliki tanggung jawab besar karena berada di Maluku Utara yang kaya bahasa, sastra, tradisi, seni, sejarah, dan pengetahuan lokal.

“Jangan hanya mewarisi fakultas ini sebagai sebuah institusi. Warisilah semangat yang melahirkannya. Sejarah bukan untuk sekadar dikenang. Sejarah adalah tanggung jawab untuk diteruskan,” katanya.

Sementara, Ketua Ikatan Keluarga Alumni FIB Unkhair Muhammad Jalil mengatakan alumni tetap membawa identitas FIB meski telah menyelesaikan pendidikan dan berkiprah di berbagai daerah.

Ia mengajak alumni yang tersebar di kabupaten dan kota di Maluku Utara ikut berkontribusi dalam pengembangan FIB, termasuk mendorong minat generasi muda terhadap bidang ilmu yang dikembangkan fakultas.

“Kami sedikit, tapi terkonsolidasi di mana-mana. Ilmu yang kami bawa dari rumah besar ini tidak sia-sia,” ujar Jalil.

Di akhir acara, Dekan FIB Unkhair Nurain Jalaluddin, S.S., M.A., melakukan pemotongan nasi tumpeng sebagai penanda puncak Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair.

Perayaan kemudian dimeriahkan penampilan Rama Arief, yang dikenal lewat lagu Wayase Nona Salero, serta rapper Didin Firman Suwandi dengan hip hop Togal (To Rap), yang memadukan musik tradisional Togal dan gaya rap.

Panitia juga mengumumkan pemenang lomba Dies Natalis, di antaranya Jefri dan Hardi pada lomba domino, Omar Chadavi pada karaoke, UPW dalam Dos dan Sanggar History pada lomba menari, Jessy Anggriany, Sonia Gay, dan Fajri pada baca dan cipta puisi, M. Fahreza pada monolog, serta Irman Ilwan, Nurul Inayah, dan Tiara Putri D.M. pada lomba menulis cerpen.