idea,_ Proyek pembangunan jalan dan jembatan ruas Payahe–Dehepodo senilai 14,6 miliar milik Dinas PUPR Provinsi Maluku Utara rupanya menghadiri persoalan serius.

Pekerjaan fisik yang dikerjakan PT Intimkara ini dinilai tak ada progres setelah pemenang tender ditentukan. Akibatnya, warga melayangkan protes dengan mendatangi kantor milik kontraktor kelas kakap, Budi Liem yang berada di Jalan Mononutu, Kelurahan Tanah Raja, Kota Ternate, Kamis (1/10),

Kedatangan warga, tak lain hanya mempertanyakan perkembangan pekerjaan yang hingga saat ini belum menunjukkan progres di lapangan.

Perwakilan warga Oba Selatan, Mashud Saleh bersama warga lainnya, menyampaikan aspirasi masyarakat setempat sekaligus meminta penjelasan mengenai progres pekerjaan yang disebut mandek atau belum menunjukkan perkembangan signifikan. Padahal, yang diketahui warga, perkerjaan ini sudah ada pencairan anggaran sebesar Rp 4 mili lebih.

Hasil pantauan di lapangan, sekitar pukul 12.00 WIT, perwakilan warga masih menunggu. Tak lama berselang, mereka dihampiri salah seorang karyawan yang diketahui sebagai orang lapangan Budi Liem.

Pertemuan antara perwakilan warga dan karyawan perusahaan itu berlangsung dalam suasana tegang. Perbedaan pandangan terkait kondisi pekerjaan di lapangan sempat memicu perdebatan, bahkan diwarnai nada suara yang meninggi.

Perwakilan warga meminta kejelasan terkait progres fisik proyek, mulai dari pekerjaan yang telah dilaksanakan hingga tahapan penyelesaian ruas jalan. Menurut mereka, masyarakat membutuhkan informasi yang terbuka mengenai perkembangan proyek yang berkaitan langsung dengan akses dan kepentingan warga.

Sementara itu, karyawan perusahaan menjelaskan bahwa pembangunan jalan memiliki sejumlah tahapan teknis yang harus dilalui. Tahapan ini antara lain pengambilan sampel material hingga penentuan titik pekerjaan di lapangan.

Pihak perusahaan juga meminta agar informasi mengenai pekerjaan yang disebut terhenti dikonfirmasi secara jelas, terutama dengan menunjukkan lokasi dan titik pekerjaan yang dimaksud.

Perdebatan semakin memanas ketika kedua pihak mempertahankan pandangan masing-masing terkait kondisi pekerjaan di lapangan. Perwakilan perusahaan meminta agar setiap persoalan disampaikan berdasarkan kondisi faktual, sementara warga tetap mendesak adanya penjelasan mengenai progres riil proyek.

Budi Liem selaku pimpinan PT Intimkara diketahui telah berada di kantor perusahaan. Ia tak mau keluar

menemui perwakilan warga yang datang untuk mempertanyakan progres pembangunan ruas Jalan Payahe–Dehepodo.

Hingga berita ini diterbitkan, Mashud Saleh bersama sejumlah rekannya masih menunggu kesempatan untuk bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan. Mereka berharap pihak perusahaan dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kondisi pekerjaan di lapangan serta target penyelesaian proyek.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos sebelumnya meminta agar pekerjaan ruas Payahe–Dehepodo dapat diselesaikan secara bertahap di 2026, dengan target seluruh pekerjaan rampung pada 2027.

Target yang menjadi bagian dari misi Gubernur ini kini ditunggu realisasinya oleh masyarakat. Warga berharap progres pekerjaan di lapangan segera mendapat penjelasan dari PT Intim Kara selaku rekanan proyek.

Hingga berita ini ditayangkan, perwakilan warga masih menunggu penjelasan langsung dari pimpinan PT Intimkara terkait progres pembangunan ruas Jalan Payahe–Dahepodo.**