“Jadi mohon dengan sangat, kita itu jangan menghabiskan tiga tahun anak-anak pergi ke sekolah percuma, habis itu mereka tidak bisa masuk di universitas terbaik yang mereka inginkan,”

idea,_ Di balik angka 36 dan 37, ada persoalan serius yang tak sekadar berbicara tentang kemampuan siswa membaca dan berhitung.

Di mata Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, angka itu menjadi potret nyata tentang mutu pendidikan di daerah ini.

Sherly menyoroti capaian numerasi dan literasi siswa Maluku Utara yang masih berada di kisaran 36–37 dari skala 100.

Persoalan krusial ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pendidikan Provinsi Maluku Utara 2026, yang dihadiri seluruh kepala sekolah SMA/AMK dan SLB yang berlangsung di Gamalam Ballroom, Bella Hotel, Ternate, Rabu, 23 September 2026.

Di balik rendahnya capaian tersebut, Sherly mempertanyakan efektivitas pengelolaan pendidikan, termasuk kedisiplinan dan tanggung jawab kepala sekolah SMA/SMK, dan SLB.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik.  Tetapi soal karakter, kedisiplinan, kecerdasan memahami informasi, serta penguasaan memecahkan persoalan juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

“Ketika kalian menjadi guru, berarti kan kalian mau jadi pendidik. Pendidik itu berarti mengajar, mengajarkan sesuatu yang baik. Dalam hidup ini, akademis itu penting, tetapi yang paling penting itu lagi adalah karakter. Jadi harapan saya di sekolah itu bukan hanya kita ini akademik sudah kurang, karakternya kurang. Skor numerasi kita, skor literasi kita itu cuman 37,” tegas Sherly.

Sorotan kemudian mengarah pada besarnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk sektor pendidikan.

Sherly menyebut sekitar Rp 180 miliar setiap tahun dialokasikan untuk BOSP dan BOSDA. Namun, kata dia, capaian literasi dan numerasi belum menunjukkan peningkatan berarti.

“Skor numerasi kita 36 dari 100. Dana BOS P setiap tahun itu angkanya Rp 180 miliar ya. Angka literasi dan numerasi tidak naik-naik. Kalaupun naik, satu, dua, tiga. Setiap tahun buang Rp 180 miliar,” ucapnya.

Di samping itu, ia mempertanyakan hasil yang diterima siswa setelah menghabiskan waktu tiga tahun di pendidikan menengah.

“Anak pergi sekolah tiga tahun, bale (balik) dapat apa? Artinya kalau dia punya skor numerasi dan literasi cuma 37 dan 36, kira-kira bisa tidak masuk di universitas terbaik di Indonesia?” ujarnya.

Sherly menuturkan, bila angka ini terus dipertahankan sudah tentu diperhadapkan dengan tantangan semakin berat ketika siswa Maluku Utara harus bersaing dengan pelajar dari daerah lain yang memiliki capaian akademik lebih tinggi.

“Kemudian kita bersaing dengan SMA-SMA yang ada di Jawa yang skornya 80, 90. Bagaimana mau jawab? Mengerti saja tidak. Kira-kira bagaimana mau jawab ujian masuk university?” katanya.

Ia bahkan mengaitkan rendahnya kemampuan literasi dengan kemampuan siswa dalam memahami informasi di sosial media yang diterima sehari-hari. Menurutnya, kondisi ini dapat membuat siswa lebih mudah terjebak pada aktivitas yang kurang bermanfaat, ketimbang memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengembangkan diri sebagai pelajar.

“Kalau literasinya angkanya 36, artinya kan habis baca, dia tidak paham. Makanya kalau di sosmed tuh lihat baku hantam, baku like, baku komen tidak ada ujung-ujungnya. Yang tulis tidak paham, yang balas juga tidak paham,”katanya.

Catatan Sherly Untuk Kepala Sekolah

Rendahnya kualitas pendidikan tidak terlepas dari bagaimana sekolah dikelola dan diawasi. Ia menilai kepala sekolah tidak cukup hanya menjalankan tugas administratif. Kepala sekolah harus memastikan proses belajar berjalan, fasilitas sekolah terawat, dan guru maupun siswa berada dalam lingkungan pendidikan yang layak.

“Nah, pertanyaannya kenapa itu bisa terjadi ya? Itu terjadi karena kepala sekolah tidak pernah awasi lihat ruangan itu.“terangnya.

Ia menegaskan pentingnya kedisiplinan kepala sekolah akan menjadi bagian penting dalam membentuk kedisiplinan siswa.

“Nah, bagaimana murid mau dididik kalau kepala sekolahnya saja tidak disiplin? Bagaimana kita mengharapkan murid bisa punya inisiatif yang baik, punya etika yang baik, proaktif, belajar? Ruang kelas saja lampu mati satu tahun, kepala sekolah tidak urus,”tegasnya.

Bagi Sherly, guru dan kepala sekolah harus menjadi teladan bagi peserta didik, bukan sekadar hadir untuk menjalankan rutinitas dan menunggu gaji.

“Guru itu, kepala sekolah itu harus memberikan contoh. Tugas kepala sekolah dan pendidik itu bukan hanya datang supaya dapat gaji,” katanya.

Sherly meminta persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut sembari mengingatkan agar tiga tahun masa pendidikan siswa tidak berakhir tanpa hasil yang sepadan.

“Jadi mohon dengan sangat, kita itu jangan menghabiskan tiga tahun anak-anak pergi ke sekolah percuma, habis itu mereka tidak bisa masuk di universitas terbaik yang mereka inginkan,”pintanya.

Orang nomor satu Malut ini menambahkan, kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi penting agar siswa mampu memahami informasi sekaligus menyelesaikan persoalan.

“Kalau mereka tidak memahami, maka bagaimana mau mengharapkan bisa memberikan solusi? Di marketplace, di dunia kerja, seseorang itu punya nilai jika dia bisa menyelesaikan masalah,” kata Sherly.

Menurutnya, hasil akhir menempuh pendidikan di sekolah bukan semata-mata memperoleh nilai akademik, melainkan membentuk disiplin dan kerangka berpikir yang benar.

“Tujuan kita belajar, tujuan kita bersekolah, supaya kita punya disiplin dan kerangka berpikir yang benar. Untuk bisa punya kerangka berpikir yang benar, kita harus memahami apa yang kita baca, apa yang kita dengar, dan apa yang kita hitung. Literasi skornya dan numerasi 36-37, artinya dari 100 persen percakapan, dia hanya pahami 36 persen.pungkasnya.