idea,- Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Maluku Utara (DPMPTSP Malut), Nirwan MT Ali memberi sambutan sekaligus membuka acara”Forum Diskusi Pengembangan Investasi Sektor Pariwisata di Kawasan Konservasi Perairan Daerah.” yang bertempat di Hotel Batik Ternate, Kamis (11/12).
Dalam sambutannya, Nirwan menyampaikan, forum ini tidak hanya sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga langkah awal mendorong investasi berkelanjutan dan pengembangan potensi wisata bahari di Malut.
“Malut dikenal sebagai daerah yang kaya akan potensi pariwisata, khususnya Wisata Bahari. Kita dianugerahi keindahan perairan, keragaman hayati laut, terumbu karang, serta budaya maritim yang tidak dimiliki oleh banyak daerah lain di Indonesia.”ujarnya.
Potensi ini, kata dia, merupakan modal besar untuk menjadikan Malut sebagai salah satu destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia.
“Kita menyadari bahwa sebagian dari kekayaan ini berada di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) yang memiliki nilai ekologis sangat tinggi. Karena itu, pengembangan pariwisata di kawasan konservasi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa, tetapi harus berlandaskan prinsip keberlanjutan, pelestarian ekosistem, serta pengelolaan berbasis komunitas.”jelasnya.
Adanya kegiatan ini, DPMPTSP Malut memandang sebagai bagian penting dalam meningkatkan efektivitas promosi investasi daerah. Dengan melalui diskusi lintas sektor, publik ingin memastikan bahwa potensi Pariwisata Bahari yang ada dapat dikembangkan menjadi peluang investasi yang terukur, aman, dan berkelanjutan, serta sejalan dengan regulasi konservasi.

“Forum diskusi ini adalah wujud keseriusan kita dalam mencari model investasi yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian perairan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang.”tuturnya.
“Lebih dari itu, harapan besar kami adalah bahwa forum ini dapat menghasilkan dokumen IPRO (Investment Project Ready to Offer) yang berkualitas. Dokumen IPRO inilah yang nantinya akan menjadi instrumen resmi untuk mempromosikan peluang investasi pariwisata di kawasan konservasi, baik kepada investor nasional maupun internasional.”sambungnya.
IPRO yang baik, lanjutnya, harus memuat potensi, kelayakan, analisis lingkungan, model bisnis, skema kemitraan dengan masyarakat, serta perlindungan terhadap kawasan konservasi itu sendiri.
Di sisi lain, IPRO ke depannya diharapkan dapat meningkatkan realisasi investasi dari sektor pariwisata berbasis kelautan. Peningkatan realisasi investasi tersebut merupakan diversifikasi investasi yang selama ini mengandalkan sektor unggulan di sektor pertambangan.
Sebagaimana diketahui bahwa realisasi investasi di Malut pada tahun triwulan III 2025 sebesar Rp 61,991 triliun dari target Rp 83,63 triliun (74,37%) yang didominasi oleh PMA sektor pertambangan logam dasar nikel sebesar 90%.
Sementara untuk realisasi investasi sektor pariwisata masih rendah karena masih bergantung pada KEK Morotai yang sebesar Rp. 3,14 miliar pada tahun2024.
“Kami percaya, dengan sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas serta media sebagai kolaborasi Pentahelix. Kita dapat melahirkan dokumen IPRO yang bukan hanya menggambarkan peluang, tetapi juga memberikan kepastian dan kepercayaan bagi calon investor. Saya berharap forum diskusi ini dapat menghasilkan pemikiran strategis, rumusan kebijakan, dan langkah tindak lanjut yang konkret. Mari kita bersama-sama membangun Malut sebagai destinasi Wisata Bahari yang unggul, berdaya saing, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan laut yang menjadi identitas daerah kita.”pungkasnya.*












Tinggalkan Balasan