idea,- Penguatan kelembagaan dan kemandirian ekonomi menjadi pekerjaan rumah utama organisasi Alkhairaat.
Penilaian itu ia sampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara, Amar Manaf, dalam Rapat Koordinasi Komisariat Wilayah Alkhairaat Maluku Utara di Aula Asrama Alkhairaat, Kalumpang, Ternate, Ahad–Senin, (12–13/1).
Amar menyebut secara historis arah pengembangan Alkhairaat terus menunjukkan kemajuan. Namun, ia mengakui masih ada komisariat daerah dan cabang yang belum bergerak optimal.
“Semua pengurus harus aktif. Komwil memiliki peran strategis untuk menggerakkan komisariat agar tidak stagnan hanya karena persoalan internal,” kata Amar.
Menurut dia, tren pengembangan Alkhairaat di berbagai bidang sebenarnya cukup positif, termasuk pada sektor ekonomi organisasi.
Sejumlah inisiatif usaha yang berhasil dibangun pengurus di tingkat kota dan daerah, kata Amar, membuktikan bahwa kemandirian ekonomi Alkhairaat bukan hal utopis.
“Model pengembangan ekonomi yang berhasil harus direplikasi di daerah lain, terutama kabupaten-kabupaten,” ujarnya.
Amar juga mendorong pelibatan tenaga ahli ekonomi untuk memperkuat tata kelola usaha organisasi.
Dengan perencanaan yang matang dan keahlian yang memadai, ia optimistis pengembangan ekonomi Alkhairaat dapat berlangsung berkelanjutan.
Ia mencontohkan upaya Kementerian Agama yang dalam setahun terakhir mendorong penguatan wakaf produktif sebagai instrumen ekonomi umat.
Ketua Umum Pengurus Besar Alkhairaat, Mohsen Alaydrus, menekankan pentingnya reposisi peran organisasi agar tetap relevan dengan perubahan sosial.
Menurut dia, penyesuaian organisasi harus berpijak pada kebutuhan nyata, bukan sekadar perubahan struktur.
“Reposisi bukan soal jabatan, tetapi orientasi perjuangan yang tetap berlandaskan nilai dasar dan moralitas Alkhairaat,” kata Mohsen.
Ia mengingatkan agar nilai tersebut tidak tergerus kepentingan politik maupun pragmatisme jangka pendek.
Mohsen menegaskan perjuangan Alkhairaat tidak boleh bergantung pada kekuasaan. Kepentingan umat, kata dia, harus dibangun melalui sistem pendidikan dan kelembagaan yang kuat.
Dalam konteks itu, pendidikan tetap menjadi ujung tombak perjuangan Alkhairaat untuk melahirkan sumber daya manusia muslim yang berilmu, berakhlak, dan berkomitmen pada umat serta bangsa.
Ia menilai tantangan ke depan semakin kompleks, baik di Jawa maupun luar Jawa, sehingga membutuhkan konsolidasi organisasi dan perluasan jejaring kader.
“Semangat kader di daerah menjadi modal besar untuk memajukan pendidikan dan Alkhairaat ke depan,” ujarnya.*












Tinggalkan Balasan