idea,_Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda mengungkapkan saat ini kurang lebih 64 titik kebakaran dengan luas lahan terdampak sekitar 260 hektar.
Sebagai langkah antisipatif untuk menangani ancaman kekeringan ekstrem, Pemerintah Provinsi Maluku Utara akhirnya mengirimkan surat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna segera melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“kita bersurat di minggu keempat Agustus untuk dibantu BNPB dilakukan OMC dan di awal September sudah datang pesawatnya.”ujar Sherly usai memantau langsung pelaksanaan OMC di Bandar Udara Kelas II Sultan Babullah Ternate, Kamis (10/9).
Gubernur mengatakan, OMC baru dilakukan 5 September kemarin dan sudah turun hujan di lima kabupaten yakni, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Utara dan Morotai. Sementara daerah lainnya, masih dalam upaya OMC.
“Kemarin paling sering terjadi hujan itu di Halmahera Utara. Di Tidore juga sudah hujan. Sekarang PR berikutnya Ternate, Sula, Taliabu, Halsel. Harapannya, Kabupatennya bisa hujan semua.”katanya.
Ia mengatakan, kegiatan OMC bakal diperpanjang hingga 12 September karena penanganannya ditargetkan dapat menjangkau seluruh kabupaten kota.
“Kegiatan OMC ini diharapkan 10 kabupaten kota bisa hujan.”ucapnya.
Meskipun begitu, OMC bisa dapat dilakukan apabila tersedia bibit awan potensial (seperti awan Cumulus) di atmosfer.
“Pemprov kini masih menunggu uap air yang cukup untuk bisa dilakukan OMC. Hari ini adalah OMC yang ke 6. Dan sudah menebar kurang lebih 6 ton, 6.000 kilo NaCl.”tuturnya.
Pada bulan ini, kata dia, kebakaran hutan terjadi di 5 titik dengan luas 12 hektar. Menurutnya, angka tersebut mengalami penurunan yang sangat signifikan.
“Kekeringan bisa diatasi. Kebakaran hutan dimitigasi. Dan yang membuka-buka lahan jangan buka lahan dengan membakar.” tegasnya.
Gubernur menjelaskan, secara overall (keseluruhan), apabila OMC berhasil dilakukan, pulau-pulau kecil juga akan mendapatkan curah hujan.
Untuk target jangka panjang, Pemprov Maluku Utara sedang mendata wilayah yang membutuhkan sumur bor di seluruh Maluku Utara. Selain itu, pemerintah daerah akan mengandalkan skema kerja sama berbasis dana APBN, APBD, dan CSR untuk memastikan tidak ada lagi desa atau pulau yang kekurangan air bersih.
“Itu target ke depan. Untuk itu kita sedang memetakan dan sedang mendata titik di mana saja. Hari di Halmahera kita menunggu awan dan uap air yang kelembaban yang cukup untuk bisa dilakukan OMC. Jadi berdoa semoga daerah-daerah belum hujan uap air dan posisi awannya memenuhi persyaratan untuk dilakukan OMC.”pungkasnya.










Tinggalkan Balasan