Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag.
(Penulis, Dosen Filsafat, dan Pegiat Literasi)

Sering kali kita membayangkan dunia sebagai ruang pertukaran yang adil. Ketika ada aksi maka ada reaksi. Ketika ada pemberian maka ada ucapan terima kasih. Tetapi di celah kecil itulah antara tindakan dan harapan saya malah menemukan sesuatu yang mengusik.

Beberapa waktu lalu saya melakukan sesuatu yang sepele bagi orang lain. Sebuah bantuan yang mestinya segera menguap dari ingatan. Awalnya semua terasa wajar dan hambar. Bahkan tanpa beban sama sekali. Tetapi entah mengapa, di jam-jam berikutnya, jari saya secara mekanis terus menyentuh layar ponsel. Saya mencari sesuatu yang tidak berani saya akui. Sebuah balasan chat dari orang itu. Saya berharap mungkin sekadar titik atau satu baris kalimat pendek berisi apresiasi.

Ketika ponsel itu tetap diam, mulailah muncul sebersit rasa ganjil. Ia sangat tipis dan nyaris tak teraba, tetapi cukup untuk membuat saya tertegun di depan cermin. Pertanyaan itu pun lahir secara spontan. Jika tadi saya merasa sudah ikhlas, lantas siapa yang sekarang sedang menunggu?

Ikhlas selama ini dipahami secara dangkal sebagai sebuah titik henti. Seolah-olah ia adalah barang jadi yang bisa kita simpan dengan mudah dalam saku. Padahal, ketika kita menilik lebih dalam, ikhlas adalah sebuah gerak eksistensial yang tidak pernah benar-benar selesai. Dalam tradisi fenomenologi, subjek atau “si aku” ini memang sangat sulit untuk sepenuhnya raib. Ia seperti bayangan yang selalu menempel pada setiap perbuatan baik kita.

Pernah suatu ketika, di momen yang berbeda saya merasa sudah memaafkan seseorang. Saya pikir urusan itu telah terkubur. Tetapi dalam sebuah keheningan yang acak, ingatan itu datang kembali. Ia tidak lagi datang sebagai badai yang menghancurkan, tetapi sebagai residu yang menolak untuk larut. Ia menetap di sana sebagai bukti bahwa melepaskan ternyata tidak pernah berarti melupakan.

Masalahnya bukan pada apa yang kita berikan atau apa yang kita maafkan. Masalah utamanya adalah “diri” yang enggan pergi. Seperti ada bagian dari ego kita yang selalu ingin diakui dan ingin dicatat sebagai sosok yang bermurah hati. Bahkan ketika kita mencoba membuang ego itu, ia sering kali kembali dengan cara yang jauh lebih halus, menyelinap di balik topeng kesantunan dan ketulusan.

Secara filosofis, apa yang kita sebut sebagai ikhlas mungkin adalah sebuah asimtot yaitu sebuah garis yang terus mendekat menuju titik nol tetapi tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Kita tidak akan pernah bisa benar-benar bersih dari diri kita sendiri selama kita masih menjadi manusia. Seolah ada ketegangan abadi antara keinginan untuk menjadi tulus dan kebutuhan primordial untuk tetap eksis.

Lalu apa yang sebenarnya kita lakukan selama ini jika ikhlas itu mustahil mencapai kesempurnaan?

Mungkin saja kita sebenarnya sedang menempuh jalan pulang yang panjang. Kita adalah pejalan yang terus-menerus menyadari bahwa tas yang kita panggul masih terasa berat karena kita memasukkan batu penghargaan ke dalamnya. Kita berjalan dalam kondisi sadar, lalu mencoba membuang batu itu lagi. Begitu seterusnya.

Dan mungkin yang paling penting bukanlah menjadi suci tanpa cela, melainkan menjadi jujur tanpa jeda. Bahwa dalam setiap kebaikan akan selalu ada sedikit diri yang ikut menumpang. Dan kita tidak perlu menunggu diri itu benar-benar lenyap untuk tetap berbuat baik. Cukup dengan menyadari kehadirannya, kita sudah menjaga agar ego itu tidak lagi menjadi nakhoda bagi langkah-langkah kita selanjutnya.**