Oleh: Samsudin Wahab Genvyr

 Setiap daerah mencerminkan karakter dan identitasnya tersendiri lewat berbagai macam ekspresi seperti bahasa, warna kulit, solidaritas sosial dan budaya. Logat sebagai bagian dari bahasa merupakan salah satu sinyal yang paling sering tampil di barisan depan sebagai cerminan identitas.

Secara historis, bahasa merupakan sesuatu yang sudah ada semenjak manusia itu ada dan hidup berkelompok. Bahasa memungkinkan ruang-ruang interaksi, komunikasi dan kerja sama dapat terbangun. Bahasa adalah alat solidaritas sosial.

Tiap bahasa biasanya mempunyai suatu bagian ciri khas yang membedakan satu daerah dengan daerah lain. Ia adalah keunikan yang menegaskan identitas tiap-tiap daerah. Bahasa beberapa daerah bisa saja sama namun ciri khasnya pasti berbeda. Logat adalah bagian yang menjadi ciri khas itu.

Logat dan Sikap Pengakuan Terhadap Identitas Lain

Selain menjadi identitas, praktik penggunaan logat yang terlalu kental juga kerap diidentikkan dengan sikap dan cara pikir yang masih kekanak-kanakan. Hal ini karena berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengontrol logatnya ketika berhadapan dengan orang yang berasal dari daerah lain, anak-anak justru masih kental dan alami dalam menggunakan logat mereka.

Jujur saja, saya termasuk orang yang paling risih ketika logat  saya diolok-olok orang lain dan saya rasa kalian para pembaca juga pernah merasakan hal itu. Padahal kalau dipikir-pikir, kita dan mereka semuanya memiliki logat khas yang mencerminkan identitas kita masing-masing.

Ketika masing-masing dari kita menilai logat kita lebih tinggi dari logat daerah lain, dan orang lain juga bersikap sebaliknya, maka sebenarnya secara tidak langsung kita sedang melakukan dan memilih sikap pada apa yang namanya “ketidakterbukaan memberikan pengakuan pada eksistensi dan identitas daerah lain”.

Kita menganggap logat kita tidak kental, tidak kasar atau mendayu-dayu seperti orang dari daerah lain adalah karena kita mencintai identitas kita dan logat adalah bagian penting yang termasuk di dalamnya. Orang lain juga merasakan demikian karena masing-masing dari kita mencintai identitas kita.

Lalu, tiap-tiap kita saling menilai dan sibuk memilih sertamemutuskan daerah siapa yang paling berlogat. Seolah logat adalah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat; atau mungkin kita hanya tidak atau belum mau membuka diri dan memberi pengakuan pada eksistensi dan identitas daerah lain.

 Kanal Kekerasan dari Kota ke Desa

Sikap merasa bahwa logat kita lebih baik dari mereka tidak hanya datang dari satu desa terhadap desa yang lain. Sikap itu juga datang dari kota terhadap desa.

Orang desa yang pergi ke kota sering dicap berlogat oleh orang kota. Logat orang desa di mata orang kota adalah bunyi yang jelek. Logat orang desa juga sering diolok-olok. Oleh karena itu, dihadapan orang kota, orang desa merasa logat mereka adalah identitas yang sebaiknya disimpan rapat-rapat.

Sementara itu, orang kota yang berkunjung ke desa selalu merasa logat mereka lebih tinggi dan keren sehingga tanpa malu-malu atau tanpa harus menyembunyikan identitasnya, mereka justru menggunakan logat mereka dengan bangga tanpa beban psikologis apapun.

Mirisnya lagi, orang desa sering meniru logat orang kota sebagai bahan candaan di tongkrongan supaya terlihat gaul. Sementara itu, orang kota kerap meniru sambil mengolok-olok logat salah satu atau beberapa teman mereka yang berasal dari desa.

Secara tidak langsung logat orang desa di mata orang kota adalah representasi atas identitas pedesaan yang memiliki gambaran umum seperti kuno, tradisional dan terbelakang. Kota seolah memiliki otoritas penuh dalam memberi definisi dan sifat terhadap desa.

Gambaran umum tentang pedesaan tersebut dilekatkan dalam kepala kita sehingga cara pandang kita terhadap desa juga ikut dikerdilkan. Seolah makna desa hanya bergantung penuh pada gambaran-gambaran umum yang kita buat itu.

 Logat dan Kekerasan yang Dimaklumi

Di ruang-ruang sosial, kekerasan tidak selalu tampil sebagai tamparan fisik maupun bentakan yang menyerang mental secara langsung. Ia kadang muncul sebagai suatu candaan yang lambat laun diterima sebagai sesuatu yang biasa saja.

Di ruang-ruang kampus, di kafe-kafe, di emperan-emperan jalan dan di tempat-tempat tongkrongan kekerasan kerap dibungkus rapi dalam percakapan yang hangat dan candaan yang terasa akrab.

Tidak hanya datang dari kalangan biasa maupun kalangan awam. Kekerasan itu juga sering datang dari kaum-kaum intelektual yang menyatakan sikap menolak berbagai ketidakadilan dan diskriminasi baik fisik maupun psikis. Di mata mereka, ejekan terhadap logat seolah sudah menjadi hal biasa dan tidak perlu lagi untuk dipersoalkan.

Peradaban dan zaman bisa saja telah berubah, namun pola pikir dan sikap kita kadang masih tetap tinggal sebagai residu yang tidak habis ikut tersaring oleh alat penyaring kesadaran kita. Buktinya sampai sekarang kita masih melanggengkan satu bentuk kekerasan yang bernama “diskriminasi terhadap logat”.

Diskriminasi terhadap logat itu tidak hanya dilakukan dan disampaikan dalam bentuk candaan. Ia bahkan kerap dirayakan sebagai sebuah keakraban yang intim dalam hubungan sosial.

Identitas dan Eksistensi yang Dipaksa Kabur

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa logat adalah cerminan identitas dan identitas kerap akan mewujudkan eksistensi dari tiap-tiap daerah tersebut.

Ketika logat suatu daerah dihalang-halangi untuk tampil, maka ada identitas dan eksistensi yang dipaksa kabur di hadapan yang lain. Dan sampai pada titik itu, ada kekerasan yang diam-diam selalu tumbuh subur.

Kekerasan itu mungkin tidak langsung menyerang psikologi dari masing-masing kita. Tetapi, ia menguji dan mempertanyakan sejauh mana prinsip dan eksistensi kita dalam membangun relasi dengan orang lain. Sejauh mana kita menghargai dan menerima mereka yang bukan bagian serupa dari kita.

 Atribusi Penulis
Samsudin Wahab Genvyr adalah seorang guru honorer di MA. Alkhairaat Labuha. Pemerhati isu-isu sosial dan budaya. Suka minum kopi dan baca buku.