Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah
Penulis, Dosen Filsafat, Pegiat Literasi

Di hadapan deretan botol yang tertata sangat rapi ini, entah mengapa saya tetiba merasa cemas.

Jangan-jangan selama ini kita hanya sedang memperlakukan kearifan hidup tak ubahnya seperti barang belanjaan yang kita pilih hanya karena kemasannya elok. Atau hanya karena ia sedang menjadi tren yang dibicarakan banyak orang.

Kita sering kali masuk ke ruang-ruang yang kita anggap penuh makna hanya untuk sekadar mencicipi sedikit pengetahuan, sebagai pelengkap gaya hidup. Namun kita malah sering enggan menelan pahitnya konsekuensi dari kebenaran itu dalam laku hidup yang nyata.

Saya sendiri merasakan adanya ironi yang cukup getir, saat kita begitu tekun memilah apa yang akan dikonsumsi oleh raga. Sementara jiwa malah kita biarkan kelaparan dalam kekosongan nilai yang hanya ditutupi oleh narasi-narasi indah yang kita susun di permukaan demi memenangkan sedikit perhatian.

Di keheningan ruang ini, saya menyadari bahwa sebenarnya bahaya terbesar dari seorang pencari makna bukanlah ketidaktahuan.Tetapi ilusi bahwa kita sudah menjadi lebih baik hanya karena kita telah menggenggam ‘botol kearifan’ yang benar.

Pengetahuan itu sering kali berakhir menjadi sekadar pajangan di rak batin yang megah. Sementara di luar sana, dunia tetap berisik dengan ego kita yang ternyata tidak pernah benar-benar mencair meski kita sudah melahap ribuan teori.

Hemat saya, menjadi manusia yang berpikir menuntut kita untuk menjadi ‘pecah’ dan bahkan ‘berantakan’ sekalipun. Dan bukan malah selalu tampil rapi dalam estetika yang sekadar menyenangkan mata kamera.

Dan juga.. Karena hidup ini memang bukan tentang seberapa banyak ramuan pemikiran yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi lebih tentang seberapa tegas kita membiarkan diri diubah oleh apa yang kita pelajari hingga tak ada lagi jarak yang menganga antara apa yang kita bicarakan dengan apa yang sebenarnya kita lakukan saat sedang sendirian dalam kesunyian.**